REVIEW ↠ Tanah Tabu

CHARACTERS Tanah Tabu

REVIEW ↠ Tanah Tabu æ Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008Di ujung sabar ada perlawanan Di batas nafsu ada kehancuran Dan air mata hanyalah untuk yang lemahMabel percaya takdir akan berakhir buruk jika kita tidak menjaga langkah apalagi bagi perempuan seperti dirinya Tapi Mace sang menantu belum bisa melupakan trauma pada masa lalu Sementara Leksi cucu kesayanPuan menengah kota Kris Budiman Kritikus Sastra Juri Sayembara Novel DKJ 2008 Sosok Mabel dalam novel ini menampilkan perempuan yang melawan diskriminasi dalam konteks sosio kultural dan politik masyarakatnya Linda Christanty Penulis dan Jurnalis Juri Sayembara Novel DKJ 2008 Tanah Tabu menarik bukan saja karena penguasaan atas materi penulisan yang baik maupun penyusunan komposisinya tetapi juga urgensi masalah yang membuatnya sangat penting Seno Gumira Ajidarma Cerpenis Novelis dan Wartawan Juri Sayembara Novel DKJ 200. Tanah TabuMembaca Luka Membaca Perlawanan Judul Tanah TabuPenulis Anindita S ThayfPenerbit Gramedia Pustaka UtamaTebal 240 halamanCetaka I Mei 2009Harga Rp 30000 PapuaDi cover depan dituliskan bahwa Tanah Tabu merupakan Pemenang Lomba Menulis Novel DKJ 2008 Beberapa tahun terkahir ini DKJ memang rutin menggelar lomba penulisan novel Salah satu pemenang lomba penulisan novel DKJ yang sempat bikin heboh adalah Saman karya Ayu UtamiSebagai novel pemenang lomba—apalagi pemenang pertama dan satu satunya—tentu saya mengharapkan Tanah Tabu menawarkan sesuatu yang lain bila dibandingkan novel novel Indonesia yang saat ini bertebaran di toko buku yang rata rata mengusung tema seragam kalau tidak bertema keagamaan keagamaan biasanya bertema seks Oleh karena itu dengan kehadiran Tanah Tabu saya berharap bisa menemukan tema lainApakah novel ini menawarkan tema lain ituTanah Tabu berlatar lokasi Papua—sebuah lokasi yang jarang disentuh oleh novel novel Indonesia Ada tiga narator dalam novel Tanah Tabu Pum Kwee dan Aku Mereka saling bergantian menceritakan peristiwa peristiwa yang mereka alami atau pernah dengar Antara Pum dan Kwee tidak jarang sering bersitegang Pum yang merasa lebih tua merasa mempuyai hak untuk menasihati Kwee Sementara Kwee yang lebih muda melihat Pum suka mengatur ngatur Tetapi mereka akan bersatu ketika melindungi tokoh Aku Ke mana pun tokoh Aku pergi Pum dan Kwee selalu menjaga dan menemani Pum dan Kwee memang tokoh misterius dalam Tanah Tabu Penulis novel ini Anindita begitu lihai menyembunyikan identitas Pum dan Kwee Apabila tidak jeli kita akan terkecoh mengenal sosok Pum dan KweeTanah Papua dalam Tanah Tabu diceritakan sebagai tempat yang mengenaskan Tanah yang kaya akan emas ini menjadi jarahan kaum pendatang Penduduk asli hidup miskin dan terbelakang Kehidupan mereka semakin terpinggirkan dari zaman ke zaman Ketika mereka ingin menuntut hak malah dituduh sebagai pemberontak Melawan kesewenang wenangan berarti harus berhadapan dengan orang ornag berseragam dan bersenjata Ironi ironi inilah yang diceritakan secara bergantian oleh Pum Kwee dan Aku dengan gaya mereka sendiri sendiri yang kadang lucu kadang mengharukanKompleksitas tema dalam Tanah Tabu yang meliputi masalah masalah feminisme militerisme pasca kolinial dan politik mampu ditulis dengan apik oleh Anindita Terlihat kalau Anindita menguasai teknik penulisan novel dengan baik Sudut pandang dalam Tanah Tabu memang melompat lompat tetapi tetap padu dalam sulaman sulaman cerita yang utuh Dengan teknik cerita yang “canggih” ini kita diajak masuk ke dalam suasana tanah Papua yang kadang kadang magis ironis menakutkan dan penuh gejolak dengan dahi tanpa harus berkurut dan bisa bisa justru kita tersenyum kecut Dongeng lain tentang tanah Papua dalam Tanah Tabu ini memang menarik untuk dibaca Mabel Bukan Perempuan Tangung Tangung Sosok Mabel dalam Tanah Tabu cukup sentral Kwee menggambarkan Mabel sebagai perempuan sebesar gunung yang mampu mematahkan leher orang dewasa Usia Mabel sudah tua tetapi masih bertenaga Mabel lahir ketika Belanda datang ke Lembah Baliyem pada tahun 1946 Pasangan keluarga Belanda yang bertindak sebagai pemimpin rombongan kemudian menjadikan Mabel sebagai anak angkat Mulailah Mabel berkelana mengikuti tuan barunyaIkut dengan keluarga Belanda menjadikan Mabel terpelajar Ia mampu berbahasa Indonesia dan Belanda dengan baik Ia banyak membaca buku Walaupun begitu karena ikut keluarga Belanda yang tidak ingin penduduk pribumi bisa mengenyam pendidikan yang baik di sekolah Mabel pun dilarang sekolah Mabel berpisah dengan tuannya ketika Papua masuk kedalam wilayah Indonesia Sang tuan harus meninggalkan Papua kembali ke Belanda Maka Mabel ditemani Pum harus hidup mandiri Dari sinilah kehidupan Mabel yang sebenarnya dimulaiDua kali Mabel menikah Suami pertama meninggalkanya setelah terjadi perang suku Suami keduanya pergi setelah para penambang emas mulai berdatangan Setelah itu Mabel hanya hidup ditemani Johanis anaknya dan Pum sahabat karibnya Sebagai perempuan yang menjadi tiang keluarga dan ibu Mabel terus berjuang untuk hidup Dia hidup dari berlandang dan menjaul hasil kebun Awalnya hidup Mabel tanpa ganguan sampai suatu malam ia ditangkap orang orang berseragam dan bersenjata karena dituduh melindungi kaum pemberontak Selama beberapa waktu ia disiksa dan diperlakuan tidak manusiawi agar mengakui kesalahan Sampai akhirnya ia dibebaskan karena tidak terbukti bersalah Sejak saat inilah Mabel mulai berubah Ia yang awal awalnya perempuan “biasa biasa” saja berubah menjadi perempuan yang kritis terhadap kondisi lingkungannya Siksaan ternyata justru menempanya menjadi perempuan yang tangguh Mabel mengkritisi pertambangan emas yang tidak memperhatikan penduduk pribumi militer yang sewenang wenang para suami yang gemar main pukul terhadap istrinya dan partai politik yang suka obral janji Dengan caranya sendiri ia bertumbuh sebagai seorang feminis yang tidak hanya membela kaum perempuan semata tetapi juga membela orang orang pribumi yang tertindas Bisa dikatakan Mabel lah sang penjaga Tanah Tabu dari tangan tangan jahat yang ingin menjarah Terhadap itu semua Mabel selalu menganjurkan untuk selalu melawan “Kita harus tetap kuatJangan menyerah Terus berjuang demi anak cucu kita Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik” pesan Mabel Akankah Mabel mampu melindungi Tanah Tabu Antara Etnografi dan Pasca Kolonial Tanah Tabu bisa dikatagorikan sebagai novel etnografi Yaitu sebuah novel yang ditulis oleh seorang penulis tentang “hal lain” yang baik secara goegrafis maupun antropologis berada di luar wilayah si penulis Dalam biografi disebutkan Anindita dilahirkan di Makassar dan sekarang menetap di Yogyakarta Dan ia kemudian menjadikan Papua sesuatu “hal lain” sebagai latar lokasi dan tulang punggung novelnya Maka lahirlah novel etnografi tentang Papua Sebagai novel etnografi Tanah Tabu menarik untuk disimak bukan saja sebagai karya sastra tetapi juga sebagai kajian antropogi Cerita yang terudar di dalamnya memberikan pandangan pandangan baru tentang tanah Papua Kisah kisah yang ada membuat kita lebih memahami tentang Papua yang sampai sekarang terus bergejolak dan mengapa tetap melawan—bahkan ingin memisahkan dari Indonesia Selain itu Tanah Tabu juga mengudar gagasan pasca kolonial Pasar dalam Tanah Tabu menghubungkan “dunia pribumi” dengan “dua asing” Pengaruh pengaruh pasca kolonial tergambar ketika Aku bertemu dengan seorang pemuda yang membawa hp produk terbaru tidak jauh dari pasar—hp sebagai simbol benda asing di kepala Aku yang “pribumi” Juga di depan pasar ada jalan luas yang menghubungan dengan dunia lain yang hanya bisa dinikmati oleh kaum pendatang komplek pertambangan emas Komplek tersebut menampilkan dunia lain yang tidak boleh dimasuki oleh orang orang “pribumi” Dari sinilah jejak jejak kolonial dalam bentuknya yang baru tergambar dengan jelas dunia “penjajah” yang berbeda dengan dunia “yang dijajah” Setelah Tentralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer Tanah Tabu merupakan novel kekinian yang kembali mengangkat tema pascakonial Tak pelak lagi kalau Tanah Tabu perlu diapresiasi secara lebih luas agar kajian pascakonial dalam karya sastra kembali bergairahendhi a pamungkas alumni fakultas filsafat ugm

Anindita S. Thayf ✓ 9 REVIEW

Ta semua Mabel berpesan Kita harus tetap kuat Jangan menyerah Terus berjuang demi anak cucu kita Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baikAnindita tidak menulis sebuah novel etnografi dengan semangat eksotisme kolonial melainkan dengan perspektif emik yang penuh empati Melalui novel ini saya berkenalan dengan Leksi seorang bocah Papua yang dengan kenaifannya justru menunjukkan kritisisme cerdas; juga Mabel yang menjadi eksemplar seorang perempuan hebat tanpa perlu ribet dan genit dengan retorika la aktivis perem. “Kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang dia akan membuatmu jadi lebih kaya bantingkan saja pintu di depan hidungnya Tapi kalau orang itu bilang ia akan membuatmu lebih pintar dan maju suruh dia masuk Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ Namun hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma cuma Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang Nak Ingat itu”halaman 30Miskin dalam Gelimang HartaHutannya kaya Alamnya eksotis Sumber daya alam melimpah Tanah Papua Tidak heran dalam bait puisinya Garin Nugroho menggambar “Tanah kami tanah kaya laut kami laut kaya Kami tidur di atas emas berenang di atas minyak”Nyatanya sebagian besar orang Papua tidak lagi bisa menikmati kekayaan alam mereka Terpinggirkan di tanah sendiri iya Alih fungsi hutan serta pembukaan pertambangan dan perkebunan malah membuat sebagain besar rakyat Papua merana Dulu nenek moyang mereka mungkin bisa menikmati kekayaan alamnya dengan hidup berkecukupan Tentu saja karena mereka bisa hidup sederhana dan secara bijak menghormati alam Mereka hanya mengambil kekayaan alam sesuai dengan kebutuhan hidup; secukupnya tanpa berlebihan apalagi serakah Tapi sekarang beda keserakahan merajalela Kekayaan alam Papua dikeruk seolah tidak pernah cukup Boro boro memberikan keuntungan bagi rakyat setempat pengerukan kekayaan alam itu hanya memberikan keuntungan berlimpah kepada orang luar orang luar pulau Papua dan bahkan luar negeriTidak hanya itu secara umum penduduk setempat mengalami kesulitan untuk mengenyam pendidikan Terciptalah kebodohan dan kebodohan semakin memiskinkan Perempuan Papua dan Kekerasan“Tanah Tabu” berkisah tentang kehidupan perempuan perempuan Papua yang ingin melenyapkan kemiskinan lewat pendidikan Juga tentang perjuangan hidup mereka dari penindasan kaum laki laki Nasib perempuan Papua itu diwakilkan oleh karakter 3 generasi Mabel nenek Lisbeth ibu dan Leksi anakcucu Mabel dan Lisbeth sangat ingin Leksi cucunya bisa mengenyam pendidikan setinggi tingginya Terlebih Mabel ingin Leksi menjadi pintar sehingga tidak bisa dibodoh bodohi orang namun juga tidak membodoh bodohi orang Mabel yakin pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan Pengalaman hidup Mabel yang cukup keras membuat dia menjadi seorang perempuan yang mandiri dan kuat Mengalami KDRT seperti kebanyakan perempuan Papua juga kekerasan aparat penegak hukumKDRT tidak hanya dialami oleh Mabel dan menantunya Lisbeth Mama Helda tetangga mereka juga setali tiga uang bernasib sama bahkan lebih parah Digambarkan para perempuan Papua harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya serta melayani suami Sementara para suami mereka menghabiskan upah kerjanya untuk mabuk mabukan dan berwisata “paha putih” Pulang ke rumah hanya untuk menganiaya istri mereka dengan kekerasan fisik psikis dan verbal Sebegitu rendahkah posisi perempuan Papua di mata para lelaki Papua sehingga layak diperlakukan seperti itu Buku “Luka Papua HIV Otonomi Khusus dan Perang Suku” menggambarkan posisi kaum perempuan Papua sebagai berikut “ kepala perang berlarian di barisan paling depan sambil berteriak ‘Iyo nawago iyo nawago Inamoramo takasi agam tuwo saya ibumu saya ibumu datang padamu Panahlah aku supaya engkau memperoleh susu Kalimat ini memiliki makna yang dalam Ia datang sebagai seorang ibu yang memberikan segala sesuatu Ia minta dibunuh agar musuh mendapatkan air susu ibu Ada unsur pengorbanan ada unsur kemenangan dan keselamatan di dalam perang Selama perang adat perempuan tidak boleh dibunuhhalaman 135” Pada halaman 139 dalam buku yang sama dijelaskan “ Perempuan kata Thomas Wamang sering menjadi pemicu konflik karena dalam masyarakat gunung perempuan mempunyai makna yang sangat penting “Kenapa gara gara perempuan orang Amungme perang Itu karena nilai perempuan sangat besar” katanya Artinya bukan dari nilai perempuan itu melainkan nilai hidup perempuan itu karya perempuan in nagao nin bagi keluarga dan masyarakat dan hatinya nart nin “Perempuan itu sumber kehidupan” Karena itu jika kehormatan keamanan dan keselamatan seorang perempuan terancam akan terjadi reaksi massal terhadap pihak yang dianggap telah melakukan tindakan tercela itu”Buku Luka Papua jelas menggambarkan kalau posisi perempuan sangat terhormat Sayangnya hal itu lebih sering dipraktekkan oleh orang orang zaman dulu orang orang yang katanya hidup di zaman primitif Jika orang zaman dulu bisa menghargai nilai nilai hidup serta dengan bijak menghargai alam sebenarnya siapa yang primitif Perempuan Pendidikan dan KemiskinanUmumnya tidak hanya di Papua orang orang lebih suka memberikan kesempatan untuk mengenyam dunia pendidikan pada anak laki laki Sementara anak perempuan dianggap telah ditakdirkan untuk mengurus rumah tangga tanpa perlu mengenyam pendidikan Benarkah seperti ituSeorang filsuf Ghana bernama DR James Emmanuel Kwegyir Aggrey 1875 1927 pernah berkata “ If you educate a man you educate an individual But if you educate a woman you educate a whole family” Cukup beralasan mengingat perempuan memang yang lebih banyak mengurus rumah tangga dan anak anak Jadi bisa dibayangkan jika seorang ibu rumah tangga yang berpendidikan menularkan pendidikan itu kepada anak anaknyaDalam buku Room to Read yang ditulisnya sendiri diceritakan kalau John Wood melalui organisasi nirlabanya juga lebih banyak memberikan beasiswa pendidikan kepada perempuan Dengan alasan yang sama karena perempuanlah yang lebih banyak mengurus rumah tangga dan berhubungan dengan anak anaknya Sudah seharusnya perempuan juga diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang setinggi tinggiTanah Papua Kesaksian Perempuan di Tanah KeramatMembaca buku “Tanah Tabu” ini seperti mendengarkan kesaksian karakter karakter yang ada dalam buku Menariknya masing masing kesaksian saling berkaitan dan membentuk sebuah cerita yang utuh Miskin tidak berpendidikan dan teraniaya pula Itulah nasib perempuan Papua yang digambarkan dalam buku ini Jika tanah Papua adalah tanah tabu tanah keramat tanah yang harus dijaga pantaskah diperjualbelikanJika perempuan Papua dianggap sebagai sumber kehidupan pantaskah dianiaya dan dibiarkan hidup dalam kebodohanPada halaman 163 Mabel berpesan kepada Leksi “ Ketahuilah Nak Rasa takut adalah awal dari kebodohan – jangan sekali kali engkau memandangnya dengan sebelah mata – mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia”

SUMMARY ↠ E-book, or Kindle E-pub ✓ Anindita S. Thayf

Tanah TabuPemenang I Sayembara Novel DKJ 2008Di ujung sabar ada perlawanan Di batas nafsu ada kehancuran Dan air mata hanyalah untuk yang lemahMabel percaya takdir akan berakhir buruk jika kita tidak menjaga langkah apalagi bagi perempuan seperti dirinya Tapi Mace sang menantu belum bisa melupakan trauma pada masa lalu Sementara Leksi cucu kesayangan Mabel masih suka semaunya sendiri Beruntung ada ada Pum dan Kwee yang bisa diandalkan Bersama keduanya si kecil Leksi berlajar menjalani hidup yang keras di atas Tanah TabuDan pada ki. 'Gunung itu bukan sagu Bukan buah merah Tidak diperjualbelikan Tanah kita keramat Nak Tabu Diciptakan Yang Kuasa khusus untuk kita tahukah kau kenapa Sebab Dia tahu kita bisa diandalkan untuk menjaganya'Pernahkan kita mendengar kata kata seperti itu dari para politisi para tokoh yang memperebutkan jatah kursi di Dewan atau mereka yang bersaing menjadi Ketua Partai Mabel bukan politisi pejabat pemerintah atau lulusan universitas bergengsi Tapi Mabel memiliki kearifan lokal sesuatu yang terlupakan di tengah tengah saling sikutnya setiap orang untuk kepentingan diri sendiri atau kelompoknya masing masingDi awal bulan September ini tiga orang trainer dari kantorku berangkat ke Jayapura untuk melaksanakan pelatihan untuk sejumlah pegawai BAPPEDA sana Walau hanya melihat sedikit bagian Papua mereka begitu terpukau Salah satunya dengan penuh kekaguman berkata 'Di sana kalau kau ingin makan ikan laut yang diperlukan hanya umpan dan pancing Jika kau ingin makan sayuran tinggal petik di halaman belakang Dan jika kau ingin makan daging ambillah peralatan berburumu dan masuk ke hutan Semuanya sudah tersedia Luar biasa bukan' Saat membaca buku ini aku merasa miris bahkan malu Aku ingat anak sponsorku yang tinggal di Maro Kabupaten Merauke Sebagai orang tua sponsor aku bisa mengirimkan hadiah dua kali dalam setahun bulan Juni dan November di luar dana sponsor bulanan yang aku transfer lewat rekening bank Keinginanku untuk membelikan hadiah selalu terganjal pertanyaan pertanyaan 'Jika aku membelikan buku dongeng anak apakah neneknya paham dan mampu membacakannya Kalau aku belikan puzzle apakah Melania bisa memainkannya Jika aku belikan sepatu apakah dia akan memakainya' Ada begitu banyak jika dan tanpa aku sadari secara tidak adil aku memutuskan orang orang Papua itu bodoh tidak tahu apa apa Bukankah cara berpikir seperti ini yang membuat semua pendatang di tanah Papua entah berkulit putih atau coklat mengeruk semua kekayaan tanah itu tanpa menyisakan buat penduduk aslinyaps Aku sudah tahu hadiah Natal apa yang akan aku belikan untuk putriku heheps2 Anindita terima kasih untuk menuliskan sebuah cerita yang indah seperti ini D